Saturday, March 3, 2012
Saat Wasit “Berbisik” dengan Mussolini…
Bagaimana perasaan Anda jika melihat seorang wasit sepak bola berbisik dengan diktator terkenal Benito Mussolini? Penasaran apa yang diperbincangkan? Sudah pasti, tentunya. Hal itulah yang mungkin dirasakan sejumlah pemain Cekoslovakia sebelum melakoni partai puncak Piala Dunia 1934 melawan tuan rumah, Italia di Stadion Nazionale PNF, Roma.
Entah apa sebabnya, wasit asal Swedia, Ivan Eklind, yang bertugas memimpin pertandingan tersebut terlihat berada di tribun yang ditempati oleh Mussolini sesaat sebelum pertandingan. Pemandangan “tak wajar” itu lantas membuat sejumlah pemain Cekoslovakia heran, termasuk sang kapten Frantisek Planicka.
Usai pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Italia 2-1 lewat perpanjangan waktu itu, tiba-tiba Planicka mengungkapkan kekesalannya. Planicka yang saat itu menjadi pemain SK Slavia Praha menuding adanya persekongkolan antara wasit dan Mussolini dalam pertandingan tersebut.
“Kemenangan kami telah dirampok! Atmosfer di stadion ini menegaskan hal itu. Eklind ada di tribun bersama Mussolini. Kami tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi kami punya dugaan. Dia menghentikan umpan bersih kami dengan meniup peluit, lalu sering mengabaikan pelanggaran keras,” sesal Planicka usai pertandingan final tersebut.
Ideologi Politik Tak Kuat, Rakyat Makin Melarat
| Seorang pejalan kaki melintasi sebuah spanduk bertulisan "KKN Membuat Rakyat Melarat dan Sengsara” di Kawasan Komplek Polda Metro Jaya, Jakarta, (Sabtu 1/10). RANDY TRI KURNIAWAN/RM |
"Pemikir, cendikia, idealis dan intelektual berdialog dan bernegosiasi dalam merekontruksi Indonesia. Sebuah harapan untuk menjadikan bangsa Indonesia yang maju, makmur rakyatnya, dan disegani di percaturan dunia Internasional.."
Jika berbicara mengenai sistem politik, bangsa Indonesia memang memiliki sejarah panjang. Guna mencari ide sistem politik yang baku, sejumlah halangan dan rintangan fluktuatif kerap menghampiri perjalanan penuh liku. Meskipun sejumlah kalangan menilai, Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial, namun kenyataannya tidak demikian.
Indonesia disebut negara yang berdasarkan prinsip-prinsip republik/politea yang berjiwa Pancasila dan UUD 1945 sebagai pandangan hidup dan falsafah dasar negara. Namun, dalam pengaplikasinya, Indonesia justru menerapkan sistem Republik Konstitusional, dimana seorang presiden memegang kekuasaan kepala negara dan kepala pemerintahan.
Bahkan sistem presidensial itu pun justru kerap membatasi kekuasaan presiden oleh konstitusi dan pengawasan yang efektif dilakukan oleh parlemen. Dengan demikian, pelaksanaan sistem republik berdemokrasi saat ini bisa diaktakan tidak ada yang mencerminkan kedewasaan dalam mengolah negara ini dengan benar.
Jika berbicara mengenai sistem politik, bangsa Indonesia memang memiliki sejarah panjang. Guna mencari ide sistem politik yang baku, sejumlah halangan dan rintangan fluktuatif kerap menghampiri perjalanan penuh liku. Meskipun sejumlah kalangan menilai, Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial, namun kenyataannya tidak demikian.
Indonesia disebut negara yang berdasarkan prinsip-prinsip republik/politea yang berjiwa Pancasila dan UUD 1945 sebagai pandangan hidup dan falsafah dasar negara. Namun, dalam pengaplikasinya, Indonesia justru menerapkan sistem Republik Konstitusional, dimana seorang presiden memegang kekuasaan kepala negara dan kepala pemerintahan.
Bahkan sistem presidensial itu pun justru kerap membatasi kekuasaan presiden oleh konstitusi dan pengawasan yang efektif dilakukan oleh parlemen. Dengan demikian, pelaksanaan sistem republik berdemokrasi saat ini bisa diaktakan tidak ada yang mencerminkan kedewasaan dalam mengolah negara ini dengan benar.
Friday, March 2, 2012
Nurcholis Madjid dan Pruralisme Islam
Sebagai salah satu cendikiawan muslim yang mempunyai pemikiran kritis tentang pruralisme Islam, membuat nama Nurcholis Madjid cukup disegani di mata masyarakat Indonesia. Tokoh kelahiran Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939 itu sangatlah menjujung konsep pluralisme terutama dalam ajaran agama Islam. Merasa bahwa ajaran Islam di Indonesia tradisional dan tidak modern, membuat pria yang akrab dengan panggilan Cak Nur itu yakin Pruralisme sangat penting untuk diterapkan.
Konsep pemikiran itu didapatkan Cak Nur sejak dirinya masih aktif dalam kegiatan keagamaan saat usianya muda. Tak puas karena menilai konsep ajaran sejumlah pesantren Indonesia yang terlalu tradisional, Cak Nur pun akhirnya rela "melalang-buana" dari satu pesantren ke pesantren lain.
Titik terang pun datang, saat Cak Nur bergabung di Pondok Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur pada 1960. Ia menilai, pondok tersebut merupakan salah satu pesantren yang sangat maju dan moderen. Sejumlah pemikiran Marx, Hegel yang sering dianggap tabu, justru dijadikan dasar pertimbangan santri-santrinya untuk mengembangkan pemikiran baru.
Enam tahun menimba ilmu, Cak Nur kemudian melanjutkan pendidikannya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada 1965. Cak Nur yang juga aktif dalam kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat itu, kemudian mulai mencoba untuk mengembangkan pemikirannya mealui berbagai tulisan. Ia pun akhirnya meluncurkan buku kecil yang berjudul "Nilai-Nilai Dasar Perjuangan". Buku yang menjadi dasar keislaman HMI hingga sekarang itu ditulis, karena dirinya merasa iri terhadap anak-anak muda komunis di Indonesia yang banyak menggunakan pedoman pemikiran Marx yang bernama Pustaka Kecil Marxis.
Konsep pemikiran itu didapatkan Cak Nur sejak dirinya masih aktif dalam kegiatan keagamaan saat usianya muda. Tak puas karena menilai konsep ajaran sejumlah pesantren Indonesia yang terlalu tradisional, Cak Nur pun akhirnya rela "melalang-buana" dari satu pesantren ke pesantren lain.
Titik terang pun datang, saat Cak Nur bergabung di Pondok Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur pada 1960. Ia menilai, pondok tersebut merupakan salah satu pesantren yang sangat maju dan moderen. Sejumlah pemikiran Marx, Hegel yang sering dianggap tabu, justru dijadikan dasar pertimbangan santri-santrinya untuk mengembangkan pemikiran baru.
Enam tahun menimba ilmu, Cak Nur kemudian melanjutkan pendidikannya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada 1965. Cak Nur yang juga aktif dalam kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat itu, kemudian mulai mencoba untuk mengembangkan pemikirannya mealui berbagai tulisan. Ia pun akhirnya meluncurkan buku kecil yang berjudul "Nilai-Nilai Dasar Perjuangan". Buku yang menjadi dasar keislaman HMI hingga sekarang itu ditulis, karena dirinya merasa iri terhadap anak-anak muda komunis di Indonesia yang banyak menggunakan pedoman pemikiran Marx yang bernama Pustaka Kecil Marxis.
Wednesday, February 29, 2012
Membangun Industri Otomotif Amerika Serikat...
Abad ke-20 merupakan masa keemasan industri otomotif Amerika Serikat. Banyak produsen otomotif bermunculan dan sukses mengembangkan usahanya di AS dari industri rumahan hingga industri besar pada masa itu. Untuk industri mobil kita mengenal Ford, Buick, Maxwell, Olds, Reo, Cadillac, Hudson, Packard, Overland hingga Marmon. Sedangkan, untuk industri sepeda motor, nama Indian hingga Harley-Davidson tak lepas dari masa keemasan industri otomotif AS pada era tersebut.
Melisik sejarah industri otomotif AS memang memiliki perjalanan panjang. Namun, untuk memulai cerita awal keemasan industri ini kita akan memulai pada akhir 1890-an. Saat itu kendaraan bermotor telah merubah status kedudukannya di masyarakat AS. Kendaraan bermotor yang awalnya diciptakan hanya untuk memenuhi rasa keingintahuan kemudian bertransformasi menjadi benda yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat AS.
Kendaraan bermotor mulanya dibutuhkan sebagai pengganti kendaraan yang telah populer pada masa sebelumnya, yaitu kereta api, kereta kuda dan sepeda. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, masyarakat AS membutuhkan kendaraan yang lebih cepat dan efisien, dan dapat bergerak sendiri tanpa bantuan tenaga kuda atau tenaga manusia.
Kereta api yang notabennya bisa bergerak sendiri, sebenarnya juga memiliki keterbatasan. Kendaraan itu dinilai "monoton" karena hanya dapat mengantar penumpang dari satu stasiun ke stasiun lainnya, dan tidak bisa memenuhi keinginan seseorang untuk mencapai tujuan yang lebih spesifik atau pribadi.
Sedangkan, untuk sepeda dan kereta kuda memang bisa memenuhi ambisi masyarakat untuk mencapai tempat tujuan yang spesifik. Tapi lagi-lagi dua kendaraan tersebut tetap dinilai kurang efisien karena kurang cepat. Maka jawaban yang paling tepat adalah kendaraan bermotor yang dapat dimiliki perorangan.
Friday, February 17, 2012
Ini Bukan Sepak Bola, tapi Perang!
Dalam insiden tersebut, sedikitnya 74 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka, termasuk para pemain dan pelatih. Ini merupakan insiden terparah sejak kerusuhan antara pendukung sepak bola Hearts of Oak dan Asante Kotoko di Stadion Accra, Ghana, pada Mei 2001 lalu, yang mengakibatkan 126 orang meninggal dunia.
Kekecewaan bintang asal Mesir itu memang bisa dimaklumi. Sepak bola yang seharusnya menjadi alat pemersatu, justru seolah menjadi ajang pertempuran kekuatan tirani politik yang kejam dalam peristiwa itu.
Lihat saja bagaimana ribuan pendukung Al-Marsy dengan membabi buta memukuli setiap anggota tim dan pendukung Al-Ahly yang ada di Stadion Port Said seusai laga yang dimenangkan oleh timnya dengan skor 3-1 itu. Bahkan, mereka tidak segan-segan menghunus pisau ke setiap orang yang menggunakan identitas Al-Ahly.
Sejumlah pemberitaan media massa menyebutkan, kerusuhan ini dipicu adanya aksi provokasi dari simpatisan mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Apalagi, daerah Port Said memang dianggap sebagai salah satu basis pendukung Mubarak yang berkuasa lebih dari 30 tahun itu.
MU-Liverpool, Bukan Sekedar Hidup dan Mati..
| Manajer Liverpool, Kenny Dalglish (kanan), dan pelatih Manchester United, Alex Ferguson. (Daylife) |
“Beberapa orang berpikir sepak bola adalah hidup dan mati. Tapi saya yakinkan Anda, ini akan jauh lebih penting daripada itu semua.“- William “Bill” Shankly.
Pernyataan yang dilontarkan dari bibir manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly, itu seakan menjadi gambaran sesungguhnya ketika menyaksikan rivalitas terbesar dalam ziarah sepak bola Inggris antara Liverpool dan Manchester United. Nama besar kedua tim seakan menjadi ikon yang tak bisa lepas dan saling melengkapi satu sama lain di dalam ranah sepak bola Inggris saat ini.
Jika ditarik ke belakang, rivalitas Liverpool dan MU ini tak bermula dari urusan lapangan semata. Dunia bisnislah yang pertama kali membuat api rivalitas menggelora dalam sejarah dua klub tersebut. Pada abad ke-19, hubungan kedua kota itu awalnya sangat harmonis, karena Liverpool terkenal sebagai kota pelabuhan besar di Inggris, dan Manchester merupakan kota pertama yang perekonomiannya cukup maju semenjak revolusi Inggris.
Namun, hubungan manis itu harus retak pada akhir 1878. Depresi dunia ketika itu, membuat Manchester “menyalahkan” Liverpool karena dianggap telah memberlakukan tarif tinggi bagi jalur distribusi produk-produk mereka. Kecewa, Manchester lantas membangun pelabuhan sendiri untuk mendistribusikan hasil industri kotanya ke seluruh dunia pada 1894.
Thursday, February 9, 2012
Harley Davidson dan Sang Revolusioner Meksiko
| Kopral Roy Holtz, "The First Yank and Harley Davidson to enter Germany" |
Meski berkembang dalam waktu singkat, bukan berarti perjalanan Harley-Davidson mulus akan rintangan. Kendala teknis dari pengembangan teknologi mesin, pemasaran dan persaingan dari perusahaan lain yang telah lebih dahulu mapan kerap menghampiri perjalanan perusahaan tersebut. Namun, berkat kerjasama dan strategi dari para pendiri Harley-Davidson dan seorang yang bernama Pancho Villa, perusahaan itu berhasil menemukan jalan pintas menuju kesuksesan.
Lantas siapakah Pancho Vila? Pancho Villa dan Harley-Davidson sebelumnya tidak memiliki hubungan sama sekali. Villa bukan seorang teknisi ataupun sales Harley Davidson. Pria dengan nama lengkap Jose Doroteo Arango Arambula atau Francisco Villa itu adalah seorang pemberontak dan pemimpin revolusi terhadap Presiden Meksiko, Venustiano Carranza.
Hubungan antara Villa dan Harley-Davidson awalnya bermula, pada 9 Maret 1919. Saat itu, bersama ratusan anak buahnya, Villa menyerang detasemen pasukan berkuda ke-13 milik AS di Columbus, New Mexico, AS untuk merebut amunisi untuk pasukannya. Meskipun mendapat perlawanan dari ratusan tentara AS, Villa akhirnya mampu merebut persenjataan dan 100 kuda detasemen milik AS dalam serangan yang dikenal dengan nama The Battle of Columbus tersebut.
Militer AS yang tidak terima dengan penyerangan itu, kemudian melakukan misi serangan balasan. AS pun memilih salah seorang tentara andalannya, Jenderal John “Black Jack” Pershing sebagai pemimpin misi tersebut. Di saat itu lah Harley-Davidson pertama kali terlibat dalam sebuah ekspedisi militer. Harley-Davidson yang terkenal dengan ketangguhannya terpilih sebagai sepeda motor yang membawa Jenderal “Black Jack” memburu Villa di padang pasir.
Akan tetapi, pengejaran yang berlangsung selama enam bulan itu mengalami kegagalan karena sang target tak kunjung ditangkap. Namun, kegagalan itu justru membuat nama Harley-Davidson melambung. Tangguhnya performa sepeda motor itu di hamparan gurun Colombus, New Mexico, membuat Militer AS berdecak kagum.
Rasa kagum itu kemudian membuat Harley-Davidson menjadi pilihan, saat AS ikut serta pada Perang Dunia I. Tak tanggung-tanggung, Militer AS pun berani untuk memasukannya dengan jumlah sepertiga dari total 70.000 unit sepeda motor yang dibutuhkan selama perang. Pilihan itu pun tepat, karena sepeda motor Harley-Davidson dapat mempermudah pasukan AS dalam melakukan pengintaian dan pengantaran logistik ke garis terdepan medan pertempuran.
Akhirnya, sepanjang PD I, sekitar 20.000 unit sepeda motor Harley-Davidson dikirim ke medan pertempuran. Meski masih tersisa 14.600 unit lagi yang belum diproduksi karena berakhirnya perang, Harley-Davidson berubah bak bintang. Sepeda motor tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat AS, karena dinilai cukup membantu negara "Paman Sam" dalam medan pertempuran. Citra "Motor Nasionalis" pun disematkan masyarakat kepada sepeda motor tersebut.
Sejumlah media massa ramai memperbincangkan "kehebatan" kendaraan Harley Davidson. Slogan “Uncle Sam’s Choice; Harley-Davidson” pun terpampang dalam salah satu iklan perusahaan tersebut pada era 1920-an. Di masa itu, Harley-Davidson akhirnya memulai masa keemasannya. Harley-Davidson kemudian menjadi legenda dan mampu mengungguli pesaing-pesaingnya hingga menjadi perusahaan sepeda motor terbesar di dunia hingga masa kini. (IKRA MUHLIS)
Subscribe to:
Posts (Atom)